photo-1485304018316-1ff471aa1369

© acharki95

1.

Bunyinya berisik dan terlalu berdecit. Kipas angin tua milik Deandra masih menyala. Deandra mungkin lupa mematikannya karena dia terlalu sibuk membenahi urusannya dengan Orion. Aku sudah memberi tahu soal  matanya yang bengkak dan hampir mencuat keluar kalau dia tidak mau berhenti menangis, tapi dia tidak mau mendengar. Tapi kalau dipikir-pikir, melihat Deandra uring-uringan semalam tadi tidak sepenuhnya buruk juga. Seharian kemarin, aku sudah membujuknya untuk memilih marah dan memaki-maki saja saat dengan tidak sengaja Orion bilang, “Aku suka tubuhmu yang sekarang. Subur”.

Deandra hampir memuntahkan semangkuk krim supnya begitu aku membisik pelan tepat di telinganya, “Kata Orion kamu gendut”.

“Bajingan, Orion!”

2.

Perumpamaannya seperti ular yang kena bedal. Tata lupa aturan main dan membuat temannya serba salah, salah kaprah. Album keluarga miliknya lagi-lagi harus disembunyikan kalau tidak mau ada selisih paham yang berkelanjutan. Tata suka orang berterus terang, tapi benci orang yang tidak bisa menjaga mulutnya; seperti Airlangga.

Ada cermin kecil di ruang tamu, dan Tata memastikan sesuatu di dalamnya berkali-kali. Obrolan Airlangga beberapa waktu tadi membuatnya kesal dan kebingungan, “Mama kamu kelihatannya lebih muda, ya, Ta?”

Tata sepakat untuk tidak ambil pusing, tapi lagi-lagi gagal dan ia kelabakan saat aku bilang secara terang-terangan kalau Airlang bermaksud merendahkannya. “Lang, kadang, terlihat lebih dewasa bukan berarti tua, kan?”

3.

Medisa tidak suka disanggah. Apalagi kalau spekulasinya memang penuh rasional dan berasas. Aku setuju saja dengan yang dipaparkan Medisa saat itu. Terlepas dari benar tidaknya, aku cuma suka Medisa dengan segala kemarahannya; bukan impresinya.

Tapi, seseorang di hadapannya masih berkutat dengan bentuk perenungan yang tidak ada habisnya. Beberapa kesimpulan mungkin muncul dan ia siap untuk beragumen kembali. “Tapi, Med”, Bara mengutil macaroni dan mengunyah pelan, lebih pelan dari ekspresi bunyi kekesalan Medisa begitu Bara kembali memulai perdebatan tidak pentingnya.

“Realitanya sekarang; toilet duduk lebih banyak dicari orang kan?”

Harapan Medisa saat itu adalah membuat Bara menyusut sekecil-kecilnya dan tenggelam dalam toilet duduknya.

4.

Mama tidak punya ampun lagi kali ini. Aku tidak suka cara pandang mama yang terlampau mudah memaafkan siapa saja, termasuk Atha dan kecerobohannya. Aku katakan saja pada mama yang saat itu sibuk dengan piring-piring kotornya kalau Atha tidak sebaiknya dimaafkan, “Marah saja, Ma”.

Raut muka mama tidak lagi ramah. Mama tidak peduli lagi soal piring kotor yang memang bukan urusannya. Apron dan sarung tangannya ia letakkan begitu saja di lantai dapur, dan sisa-sisa sabunnya memercik kemana-mana. Langkahnya jadi terburu-buru dikejar waktu. Begitu ia lihat remot yang tergeletak di meja, pretensinya adalah membuat televise-nya tidak lagi menyala.

Suara mama sedikit lebih keras dan penuh ketegasan, “Tidak ada yang berhak menikmati fasilitas rumah bagi siapapun yang menghilangkan Tupperwere mama!”

.

Fin

Note :

Premenstrual syndrome (PMS) refers to physical and emotional symptoms that occur in the one to two weeks before a woman’s period.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s